Senin, 19 November 2012

GANGGUAN TINGKAH LAKU YANG BISA MENGHAMBAT BELAJAR

KONSEP DASAR GANGGUAN TINGKAH LAKU 1. Hakikat Perilaku Manusia Perilaku manusia dapat diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil dapat dibedakan dengan manusia lainnya. Sedangkan perilaku itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk respon dengan stimulus yang timbul dan manusia merupakan gabungan dari jiwa dan raga yang memiliki sifat-sifat tertentu dan unik. (Tirta Raharja U. dkk …2000) pengantar pendidikan ; Jakarta : Rieneka Cipta. Bagian Hakekat manusia dan pengembangan). Menurut Beerlins, 1951:43 manusia adalah makhluk yang serba terhubung dengan masyarakat, lingkungan dirinya sendiri dan tuhan. Pada dasarnya perilaku manusia dapat terbentuk akibat adanya stimulus yang diberikan, stimulus yang datang akan direspon dalam bentuk perilaku yang ditunjukan, perilaku itu sendiri dapat berbentuk positif atau negatif tergantung pada stimulus yang datang. II. Pengertian gangguan Tingkah Laku Gangguan tingkah laku dapat didefinisikan dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan keperluan profesionalnya, adapun pengertian dari gangguan tingkah laku dari beberapa ahli yakni : a. Kauffman : 1977 Anak yang mengalami gangguan tingkah laku merupakan anak yang secara nyata dan menahun merespon lingkungan tanpa adanya kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan dapat memuaskan kpribadiannya. b. Nelson ; 1981 Tingkah laku seseorang dapat dikatakan menyimpang atau mengalami gangguan jika : 1. menyimpang dari perilaku yang oleh orang dewasa dianggap normal menurut usia dan jenis kelaminnya. 2. penyimpangan terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi 3. penyimpangan berlangsung dalam waktu yang relatif lama2 III. Problem-problem Khusus Penetapan Gangguan perilaku pada anak a. Problema secara umum mengevaluasi dan mendiagnosis penyimpangan perilaku : 1. Sulit menentukan criteria dan penyimpangan itu sendiri 2. Sangat ditentukan oleh situasi dan kondisi 3. Kualitas penyimpangan dan kreativitas penyimpangan 4. Bagaimana motivasi perilaku-perilaku yang dilakukan individu b. Problem yang berhubungan dengan anak 1. Adanya keterbatasan pengalaman anak 2. Adanya perbedaan antara pria dan wanita 3. Kepribadian anak yang cenderung instability 4. Anak-anak sering mempunyai sifat negativisme 5. Shyness ( sering ditunjukan sifat malu pada anak-anak ) sehingga sering timbul perilaku menyendiri. 6. Tingginya sifat anak yang hiperaktif 7. Berkaitan dengan kematangan c. Problem yang berkaitan dengan instrumen 1. Terbatasnya alat-alat yang baku dalam menentukan penyimpangan perilaku 2. Kewenangan para ahli untuk menentukan perilaku tersebut 3. Tidak mudahnya membuat instrumen yang valid terhadap jenis penyimpangan 4. Pemahaman anak dengan alat instrument 5. Masalah komunikasi dengan anak d. Faktor-faktor perbedaan treatmen pada anak anak dan orang dewasa. 1. Faktor motivasi 2. Pemahaman terhadap tujuan treatmen 3. Perkembangan belajar 4. Perkembangan kognitif 5. Ketergantungan dengan lingkungan 6. Perkembangan kepribadian3 IV. Teori Gangguan Tingkah Laku Teori gangguan perilaku banyak dikemukakan oleh para ahli yang memiliki pandangan-pandangan yang berbeda tentang perilaku itu sendiri, diantaranya : 1. Teori Behavioral Teori behavioral menganggap bahwa sebuah perilaku itu dibentuk dari faktor eksternal dari suatu individu (lingkungan). Para kaum behavioris memasukan perilaki kedalam suatu unit yang dinamakan tanggapan atau respon dan lingkungan ke dalam unit rangsangan atau stimulus, menurut paham behavioral perilaku suatu rangsangan dan tanggapan tertentu bisa berasosiasi satu sama lainnya dan menghasilkan satu bentuk hubungan fungsional. Kaum behavioral menganggap faktor ekstern dari seseorang akan sangat mempengaruhi perilaku yang ditunjukan oleh pribadinya. 2. Teori Psikodinamik Teori ini sangat kontradiktif dengan teori behavioral karena teori ini menganggap sebuah perilaku yang ditunjukan oleh suatu individu disebabkan oleh faktor intern (dirinya sendiri). Faktor psikologis seorang individu sangat berpengaruh pada pembentukan karakteristik seseorang. Dalam teori psikodinamik ini sangat mengacu pada 3 aspek penting yaitu ego, id dan super ego. Ego adalah pusat atau inti kepribadian, id adalah keinginan atau hasrat, super ego adalah pengatur atau penyeimbang. Ketiga aspek ini tidak dapat terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Gangguan perilaku akan timbul bila ketiga aspek ini tidak seimbang dalam bertindak. 3. Teori Sosiologi Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi individu dengan individu lainnya, menurut pandangan kaum sosiologis gangguan perilaku terjadi karena ketidak mampuan suatu individu dalam bersosialisasi dengan lingkungan sosial tetapi lebih mengarah atau cenderung pada orang-orang di sekelilingnya. Sedangkan batasan mengenai gangguan perilaku pada pandangan kaum sosiologis adalah bahwa perilaku menyimpang adalah perilaku yang selalu meresahkan ketentraman dan kebahagiaan orang lain.4 4. Teori Ekologi Teori ini menganggap suatu perilaku akan sangat ditimbulkan dari lingkungan yang mempengaruhinya, sepaham dengan teori behavioristik teori ini menekankan pada pembentukan suatu perilaku sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sedangkan batasan perilaku menyimpang menurut pandangan kaum ekologis adalah perilaku yang tidak ada keseimbangan antara lingkungan dengan perilaku yang ditunjukkan. Semua teori perilaku ini mengacu pada satu kesimpulan yang akhirnya mengutarakan bahwa perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh factor lingkungan dan factor dirinya sendiri. Teori behavioral, ekologis dan sosiologis membenarkan bahwa suatu perilaku itu sangat terbentuk bila dipengaruhi oleh faktor dari luar dirinya sendiri (lingkungan) sedangkan teori psikodinamik membenarkan bahwa suatu perilaku itu sangat terbentuk bila dipengaruhi oleh factor dari dalam dirinya sendiri. V. Klasifikasi Gangguan Pada Anak Berdasarkan Diagnostik Statistik Manual III (DSM III), gangguan perilaku dapat dibedakan menjadi : 1. Organik Mental Disorder : Gangguan perilaku yang disebabkan oleh disfungsi otak secara permanent. 2. Anxiety Disorder : Kelainan perilaku dengan rasa takut atau cemas yang berlebihan dan tidak beralasan. 3. Ajusment Disorder : Sukar mereaksi yang tidak wajar terhadap lingkungan 4. Attention Disorder : Tidak dapat memusatkan perhatian 5. Acting Out : Tingkah laku diluar batas Berdasarkan Quay karakteristik gangguan perilaku pada anak yakni : 1. Merusak milik orang lain 2. Tidak pernah diam 3. Mencari perhatian 4. Tidak memperhatikan 5. Mudah terganggu perhatian 6. Sering mengganggu 7. Sering mengejek orang lain5 VI. Penyebab Gangguan Perilaku Pada Anak Dari berbagai kasus yang ada gangguan perilaku pada anak tidak lepas dari factor penyebab, yaitu : 1. Kondisi atau keadaan fisik Ada beberapa ahli yang meyakini bahwa disfungsi kelenjar endoktrin dapat berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Gunzburg (B. Simanjuntak, 1974) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endoktrin ini merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Jika kelenjar endoktrin ini secara terus menerus mengeluarkan hormon maka akan mempengaruhi perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh pula terhadap perkembangan wataknya. 2. Masalah Perkembangan Menurut Erikson (Singgih. D. Gunarsa,1985:107) bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi krisis ini maka perkembangan ego yang matang akan terjadi, sehingga individu dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosial atau masyarakatnya. Sebaliknya apabila individu tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut, maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. 3. Lingkungan Keluarga Sebagai lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan anak, keluarga memiliki pengaruh yang demikian penting dalam membentuk kepribadian pada anak. Keluargalah peletak dasar perasaan aman pada anak, dalam keluarga pula memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan aman, dasar perkembangan sosial, dasar perkembangan emosi dan perilaku yang baik. Kesalahan dalam keluarga dapat menimbulkan gangguan emosi dan perkembangan perilaku pada seorang anak. 4. Lingkungan Sekolah Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua setelah keluarga. Timbulnya gangguan perilaku yang disebabkan lingkungan sekolah antara lain berasal dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan dan fasilitas penunjang yang dibutuhkan anak didik.6 Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran sehingga anak akan lebih memilih membolos dan keluyuran pada saat dimana seharusnya ia berada dalam kelas. 5. Lingkungan Masyarakat Menurut Bandura (Kirkn & Gallagher, 1986) salah satu yang mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladan yaitu menirukan perilaku orang lain. Masuknya budaya asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut masyarakat pada umumnya pun akan menyebabkan pola perilaku anak yang menyimpang. BAB II DAMPAK GANGGUAN TERHADAP ASPEK PERKEMBANGAN 1. Perkembangan Kognitif Anak yang mengalami gangguan tingkah laku memiliki tingkat kecerdasan yang sama dengan anak pada umumnya. Presatasi yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan tingkah laku yang mereka alami. Menurut Ny Singgih Gunarsa (1982), kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya yang menimbulkan kesulitan pada anak untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak sesuai. Ketidak mampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar dapat menjadikan anak prustasi dan kehilangan kepercayaan dirinya sehingga anak mencari konpensasi yang sifatnya negatif misalnya bolos, lari dari rumah dan mengacau di kelas. Akibat lain dari kelemahan intelegensi ini menimbulkan gangguan tingkah laku. Disamping anak yang berintelegensi rendah tidak berarti bahwa anak yang memiliki intelegensi tinggi tidak bermasalah. Anak yang berintelegensi tinggi sering kali mempunyai masalah dalam penyesuaian diri dengan temam-temannya. Ketidak sejajaran antara perkembangan intelegensi dengan kemampuan sosial mengakibatkan anak mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan kelompok yang lebih tua.7 Anak yang pintar dengan hambatan ego emosional seringkali mempunyai anggapan yang negarif terhadap sekolah yang menganggap seolah terlalu mudah dan guru menerangkan terlalu lamban. Dari uraian di atas kiranya jelas bahwa pada dasarnya perkembangan intelegensi anak tunalaras tidak berbeda dengan anak pada umumnya. Ada yang memiliki intelegensi rendah, rata-rata, dan adapula yang berintelegensi tinggi. 2. Dampak Terhadap Perkembangan Motorik Perkembangan motorik merupakan perkembangan yang pasti dimiliki oleh anak dari anak sejak lahir sampai masa-masa perkembangan yang lainnya. Terjadinya gangguan dalam perkembangan emosi akan dapat berpengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan, karena salah satu yang akan mengontrol tingkah laku anak adalah emosi atau jika kaum behavioristik memberi pandangan yaitu ego, super ego dan id. Dampak gangguan emosi terhadap perkembangan motorik antara lain adalah : a. Menjadikan gerak motorik tidak dapat dikontrol secara tidak sadar b. Terjadinya suatu gerakan-gerakan yang mendadak dan tidak disadari oleh dirinya Perkembangan motorik seseorang anak akan berpengaruh terhadap ADL yaitu Activities Daily Living. Karena aktivitas kehidupan sehari-harinya akan sangat dipengaruhi oleh gerak motorik halus ataupun gerak motorik kasar. Bagaimana gangguan perilaku akan sangat berpengaruh terhadap suatu perkembangan motorik akan dijelaskan pada ilustrasi berikut ini : Andi adalah anak yang normal pada saat dia kecil. Ketika menjelang umur 3-4 tahun ia sering merasa gelisah dan selalu mengganggu teman-temannya, hal itu sering Andi lakukan sampai berusia 10 tahun. Ketika itu Andi sering memukul orang dengan tiba-tiba padahal ia hanya tersinggung sedikit, Andi sering melakukan itu sampai dia dewasa. 3. Dampak Terhadap Perkembangan Emosi Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari kelainan tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan emosi yang tidak stabil, ketidak mampuan mengekspresikan emosi secara tepat, dan pengendalian diri yang8 kurang sehingga mereka sering kali menjadi sangat emosional. Gangguan emosipun dapat juga disebabkan oleh ketidak berhasilan dalam melewati fase-fase perkembangan. Freud mengemukakan bahwa kehidupan emosi pada tahun-tahun pertama kehidupan anak harus berlangsung dengan baik agar tidak akan menjadi masalah setelah dia dewasa, anak yang tidak mengalami dan memperoleh kasih sayang dan kepuasan pemenuhan kebutuhan akan mengalami kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan terhadap orang lain sehingga di kemudian hari akan mengalami masalah dalam hubungan sosial dengan orang lain. Anak tunalaras tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang mungkin dapat dirasakan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan iapun kurang dapat mengerti dan menghayati bagaimana perasaan orang lain, mereka juga kurang mampu mengendalikan emosinya dengan baik sehingga seringkali terjadi peledakan emosi. Ketidak stabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misalnya: mudah marah dan mudah tersinggung sehingga akan mengakibatkan prestasi belajar yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 4. Dampak Terhadap Perkembangan Sosial Gangguan perilaku yang terjadi pada anak-anak sering menimbulkan dampak perkembangan sosial mereka. Pada anak-anak yang normal perkembangan usia dan emosi mereka akan seiring sejalan (koheren) dengan perkembangn sosial mereka yang sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Ketidak matangan sosial dan atau emosional mereka selalu berdampak pada keseluruhan kepribadiannya, sehingga hal itu berpengaruh pula terhadap kehidupan sosial yang dijalaninya. Beberapa bentuk dampak perilaku yang ditunjukan terhadap perkembangan sosial dari anak yang mengalami gangguan perilaku atau emosi yaitu : a. cenderung menutup diri b. bersifat apatis terhadap sekelilingnya c. terasingkan diri dari lingkungannya d. sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya e. kurang rasa percaya diri f. kurang motivasi9 ketidak mampuan anak yang mengalami gangguan perilaku dalam melakukan interaksi sosial yang baik dengan lingkungannya disebabkan karena pengalaman – pengalaman yang tidak menyenangkan, menganggap dirinya tidak berguna bagi orang lain , merasa tidak berperasaan dan mudah curiga terhadap orang lain. 5. Dampak Terhadap Perkembangan Kepribadian Kepribadian merupakan suatu struktur yang unik tidak ada dua individu yang memiliki kepribadian yang sama. Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai suatu organisasi yang dinamis pada system psikofisik individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam berbagai kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari kepribadian akan dirinya. Gangguan perilaku yang dialami seseorang akan mempengaruhi bentuk kepribadiannya, individu tersebut akan merasa tersiksa bahkan menimbulkan frustasi jika pemenuhan kebutuhan dasarnya yang mempengaruhi kepribadian tidak terpenuhi secara wajar. BAB II ISI KONSEP DASAR TENTANG GANGGUAN PRILAKU A. Hakikat Perilaku Manusia Pada dasarnya setiap orang memiliki hakikat perilaku yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sosial secara nyata dan pada akhirnya akan mempengaruhi persepsi dan tindakan individu terhadap sesamanya. Beberapa hakikat dasar tentang perilaku manusia yaitu : 1. Kebebasan / ketidakbebasan Merupakan dua anggapan dasar yang berlawanan tentang hakikat perilaku manusia yang sudah berlangsung sejak lama. Anggapan dasar menyatakan bahwa arah kehidupannya adalah sebuah anggapan dasar pada pandangan manusia, dan kalau anggapan ketidakbebasan didasari bahwa manusia adalah organisme yang ditentukan oleh sejumlah tertentu.10 2. Subjektif dan objektif Bahwa hakikat perilaku manusia merupakan factor penentu terbesar, kalau subjektif terdapat dari pengalaman-pengalaman personal sedangkan kalau pandangan objektif hakikat perilaku manusia merupakan individu yang hidup di dalam pengalaman- pengalaman yang eksternal. 3. Rasional dan irasional Bahwa hakikat perilaku manusia sebagian besar didorong oleh kekuatan-kekuatan yang mendasar. B. Pengertian Gangguan Perilaku 1. Menurut Bruno adalah respon atau perbuatan yang dilakukan seseorang, suatu perubahan perilaku merupakan suatu kepribadian karena setiap respon atau tindakan seseorang yang menunjukan perubahan sebagi cerminan fenomena psikologis baik diamati maupun diukur 2. Menurut Evan Et Al adalah bentuk yang sederhana merupakan perbuatan yang diamati dengan suatu titik awal dan akhir yang dapat diukur 3. Menurut APA ( America Psikiatrie Acociation) adalah gangguan yang berupa pola atau gejala psikologis atau tingkah laku yang secara klinis sangat disignifikan gejala/ pola ciri yang terjadi pada C. Problematik Gangguan Perilaku Pada Anak Masalah yang berhubungan dengan gangguan perilaku pada anak bukan hanya dipikirkan oleh oorang-orang sekarang ini, tetapi pada masa-masa orang terdahulu. Aristoteles sebagai orang filosofis yang terkenal dalam bukunya yang berjudul Rhetenic Anhisteric Animalium menguraikan tentang hubungan antara perubahan-perubahan dialam pertumbuhan jasmani disamping mempengaruhi aspek psikologis dan penyesuaian dinamik terhadap lingkungan. Hiporekates juga telah menguraikan orang- orang yang abnormal jiwanya adalah keturunan dari orang menunjukan tingkah laku yang menyimpang. Mendel seorang ahli keturunan di dalam penyelidikannya menarik suatu kesimpulan bahwa gangguan prilaku abnormal dan gangguan kejiwaan terjadi dalam suatu keturunan yang sedarah.11 J. J. Rausseau dalam bukunya yang berjudul Emile membicarakan perkembangan anak mulai bayi sampai dewasa dan periode 12-13 tahun disebut “The Age Of Kreason Reson”. Freud seorang ahli ilmu jiwa menguraikan bahwa anak laki-laki dalam periode fhalis sudah meningkat kedewasaannya dan mengidentifikasikan dirinya dengan ayahnya, karena cinta pada ibunya maka terjadilah apa yang disebut Oudipus-complex, dimana anaknya memusuhi ayahnya apabila keinginan tersebut tidak dapat disalurkan secara sempurna, baik melalui susunan neuro vegetatif maupun difens psiologis, maka terbentuklah stuktur kepribadian dan muncul dalam kelakukan psikopatik yaitu timbulnya sikap tingkah laku yang pemikirannya itu karena anak tidak dapat mengembangkan supra egonya. Prof. R Casimis dalam bukunya yang berjudul “ Sepanjang Garis Kehidupan” menyatakan bahwa gangguan tingkah laku atau prilaku ini jelas terlihat dala kehidupan kelompok anak-anak. D. Klasifikasi Gangguan Prilaku Dibagi menjadi dua jenis yaitu : 1. Prilaku respon menunjukan pada prilaku replek dan respon secara otomatis 2. Prilaku operan menunjukan prilaku yang mendasar pada anak-anak Menurut Stonger klasifikasi dibagi menjadi dua yaitu yang sangat diduga maupun yang tidak diduga dan berdasarkan acuan norma dibagi menjadi dua yaitu : 1. prilaku normal menunjukan pada prilaku manusia yang selaras dengan norma masyarakat 2. prilaku menyimpang menunjukan bahwa prilaku manusia itu tidak berada di luar norma sosial atau prilaku yang tidak selaras denga norma yang ada E. Teori-teori Gangguan Prilaku 1. Teori Behavioristik a. Menurut Bruno adalah suatu doktrin yang menyatakan prilaku dapat dijelaskan, diramalkan, dan terlepas konsep tentang kesadaran.12 b. Menurut Soemanto menyatakan bahwa prilaku manusia itu dapat dikendalikan oleh ganjaran atau penguatan dan juga kekuatan. 2. Teori Humanistik a. Menurut Bruno adalah suatu pandangan yang menyatakan bahwa individu sendiri yang membentuk kualitas eksistensinya individu melakukan sesuatu membuat pilihan secara sadar. b. Menurut Soemanto menyatakan bahwa setiap individu dipengaruhi oleh maksud- maksud pribadi dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman prilaku sendiri dan ia bebas menentukan kualitas hidupnya. 3. Teori Nativisme Gangguan prilaku ditentukan oleh faktor keturunan yang dibawa oleh individu sejak lahir, sedangkan faktor di luar keturunan sedikit atau sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap prilaku individu. 4. Teori Emperisme bahwa gangguan prilaku seorang individu ditentukan oleh factor empirisnya atau pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama prilaku individu itu. 5. Teori Konvergen Konvergensi artinya kerjasama perkembangan adalah suatu proses kerjasama factor dari dalam dan dari luar. Sebab-sebab gangguan prilaku anak : a. Faktor keturunan orang yang pertama kali mengadakan penyelidikan mengenai mekanisme keturunan secara ilmiah yaitu Mendel. Dari bekas-bekas Mendel yang bersangkut paut dengan ilmu keturunan para ahli biologi menerangkan bahwa penyimpangan- penyimpangan tingkah laku banyak terjadi dari suatu sedarah b. Faktor fisik dan Psikologi/Typologi/Temperamen Dari penyelidikan melalui E.E.G (elector enchyphalo Gram) banyak diketemukan dari anak yang melakukan menyimpang sedang bagi orang dewasa kelainan tersebut terdapat pada mereka yang telah melakukan perbuatan kriminal.13 c. Faktor Psikologis Seorang yang mengalami suatu kesukaran dalam memecahkan suatu permasalahan akan menimbulkan konplik pribadi bagi orang normal konplik tersebut dapat diatasi sedang bagi mereka yang mengalami gangguan prilaku tidak dapat menyelesaikannya. d. Faktor Psikososial Tingkah laku yang menyimpang dapat pula disebabkan dari pengalaman- pengalaman pada masa kanak-kanak dan aspek ekonomi keluarga yang kurang. I. Dampak Gangguan Prilaku Terhadap Aspek Perkembangan 1. Emosional a. Konsep Dasar Emosional Menurut psikologi emosi adalah pengalaman yang sadar dan komplek yang memberikan pengaruh terhadap aktivitas tubuh. b. Dampak emosional Apabila emosi tersebut sudah begitu keras melampaui batas penerimaan atau nilai kritik individu begitu keras sehingga fungsi individu terganggu maka dinyatakan emosinya terganggu, mungkin sebagai pendorong maupun penghambat tetapi sudah di luar kewajaran karena sifatnya berlebihan. c. Jenis gangguan emosi (1). Defresi : perasaan sedih yang tertekan (2). Ambivalensi : ketidak tetapan perasaan atau emosi terhadap sesuatu (3). Agitasi : kecemasan yang disertai dengan kegelisahan 2. Motorik a. Konsep dasar Motorik Secara neuro biologis motorik adalah gerakan manusia diatur oleh otak yang namanya pusat motorik. Secara psikologis setiap manusia memiliki energi yang dinamakan energi biologi umum yang bermula-mula belum terdeperensiansi.14 b. Dampak Motorik Pada orang yang normal proses dari adanya motivasi sampai dengan gerakan tersebut pada umumnya berjalan lancar sedangkan pada gangguan prilaku proses tersebut tidak lancar. c. Jenis-jenis Gangguan Motorik (1). Abulia : orang yang lemah kemauannya (2). Negatifisme : ketidak sanggupan untuk bertindak sugesti (3). Kepribadian a. Konsep Dasar Kepribadian Menurut Maramis bahwa kepribadian meliputi segala corak tingkah laku manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk beraksi serta menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dunia luar maupun dalam. b. Dampak Kepribadian Sifat curiga yang menonjol, orang lain selalu dilihat sebagai aggressor, ingin merugikan, ingin menyakiti dan sebagainya sehingga ia bersikap sebagai pemberontak untuk mempertahankan harga dirinya dan juga melemparkan tanggungjawab dan kesalahan pada orang lain. c. Jenis Gangguan Kepribadian (1). Kepribadian antisosial : bahwa prilakunya selalu menimbulkan konplik dengan orang lain (2). Kepribadian Skizoid : pemalu, pendiam dan suka menyendiri (3). Kepribadian histerik : sombong, egosentrik dan tidak stabil emosinya BAB II PENDEKATAN TREATMEN TINGKAH LAKU A. Pendekatan Biofisikal Terapi bagi anak yang mengalami penyimpangan tingkah laku bertujuan untuk mengurangi prilaku yang mengganggu, memperbaiki prestasi sekolah dan hubungan dengan lingkungannya, serta lebih mandiri di rumah dan di sekolah. Disamping itu, terapi15 ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan diri anak dan prilaku yang lebih aman di komunitas. Saat dilaksanakan terapi disarankan keluarga penderita dilibatkan agar terapi dapat berlangsung dengan lebih efektif. Keterlibatan anggota keluarga lainnya dan guru sangat diperlukan dalam penanganannya. Dalam hal ini dokter berperan sebagai educator dan konsultan bagi penderita dan keluarga penderita. Terapi Biofisikal dilakukan dengan cara mengontril zat-zat yang ada dalam otak. Pilihan utama terapi adalah obat dari golongan psikostimulan. Salah satunya adalah Methylphenidate. Obat tersebut diberikan bila gejalanya cukup mengganggu, terjadinya hambatan fungsi sosial, edukasi dan emosional. Dengan memberi obat terapi lain bisa lebih berhasil. Biasanya pengobatan diberikan sesudah jam sekolah. Berdasarkan penelitian, Methylphenidate dapat dipakai sebagai pengobatan. Seminggu sejak pengobatan terjadi perbaikan tingkah laku dan memperbaiki produktifitas, akurasi, dan efesiensi. Mekanisme kerja Methylphenidate adalah meningkatkan pelepasan dopamin dan noradrenalin di dalam otak. Zat tersebut juga memblokir masuknya kembali kedua neurotransmeter itu ke dalam otak. Saat ini Methylphenidate dikembangkan dengan teknologi mutakhir yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan penderita dalam mengontrol kadar neurotransmeter. B. Pendekatan Psikodinamik Setiap manusia berkembang melalui serangkaian interaksi tenaga-tenaga herediter (keturunan) dengan keadaan lingkungannya. Kekuatan interaksi ini berbeda antara satu orang dengan orang lain. Sifat-sifat herediter diturunkan oleh orang tua kepada anak- anaknya melalui gen-gen. setiap orang memiliki potensi keturunan tertentu. Manusia adalah mahkluk unik karena kemungkinan kombinasi gen-gen yang banyak dengan berbagai corak situasi lingkungan serta berlapis-lapis aneka pengalaman sejak konsepsi diawali maka setiap aspek yang ada di sekeliling selalu berinteraksi dengan potensi dari keturunan. Pada waktu lahir, bayi memberikan sahutan terhadap rangsangan-rangsangan pertama yang ada di sekitarnya. Setelah bayi berkembang dari hari ke hari, berinteraksi dengan lingkungannya, bayi yang secara psikologis belum memiliki bentuk itu sekarang berdiferensi, kemudian berkembang menjadi EGO atau AKU. Dari sudut pandang16 psikodinamik, maka dalam proses perkembangan egonya, kepribadian si bayi diorganisasikan di sekeliling inti yang terdiri dari kebutuhan psikologis dan biologis. Dalam hal ini dikaitkan dengan anak berkebutuhan khusus terutama anak tunagrahita yang sama-sama manusia dan memiliki kebutuhan yang sama dengan manusia pada umumnya terutama dalam kebutuhan psikoloigis dan biologis. Terapi dalam hal ini bagaimana cara anak tunagrahita berusaha untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhannya, karena hal ini merupakan factor penting dalam perkembangan ego. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak tunagrahita dapat mengalami prustasi, konflik, bagaimana cara kita sebagai seorang pendidik dalam bidang ini untuk berusaha memenuhi kebutuhan anak tunagrahita, cara kita melindungi dan meninggikan integritas egonya. Hal ini tergantung sejauhmana kita mengenal anak tersebut dan memahami karakteristik anak. Untuk lebih jelasnya maka di bawah ini ada salah satu tokoh tentang pendekatan psikodinamik yaitu : Sigmund Freud dengan pendekatannya “Deep Theraphy” dengan adanya : 1. ID atau dorongan-dorongan dalam diri prinsip kerjanya adanya kepuasan berkaitan dengan napsu dan sex (pleasure principle), berada dibawah alam sadar. 2. Ego prinsipnya kenyataan dan bersifat eksklusif yang mengintegrasikan antara id dan super id (reality principle). Fungsinya mengatur dan menahan desakan dalam diri sesuai dengan realita. Ego terbagi menjadi dua : a. Ego ideal : terkait dengan aturan-aturan standar moral b. Concience : kata hati, timbul akibat tekanan, peringatan, hukuman yang datang dari luar Menurut Freud, tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ketidaksadaran, sifat dari tingkah laku manusia itu mekanis (deterministic mekanik). Menurut Freud, aneka situasi yang menekan yang mengancam akan menimbulkan kecemasan dalam diri seseorang. Kecemasan ini berfungsi sebagai peringatah bahaya sekaligus merupakan kondisi tidak menyenangkan yang perlu diatasi. Jika individu mampu mengatasi sumber tekanan (stressor), kecemasan akan hilang. Sebaliknya jika gagal dan kecemasan terus mengancam mungkin dengan intensitas yang meningkat pula, maka individu akan menggunakan salah satu atau beberapa bentuk mekanisme pertahanan diri. Langkah ini secara superficial dapat membebaskan individu dari kecemasannya, namun akibatnya17 dapat timbul kesenjangan antara pengalaman individu dan realitas. Pendekatan psikodinamik dalam mengkaji gangguan pasien senantias memiliki jauh ke masa awal perkembangan pasien. Kajian itu ingin melihat jika pasien pernah mengalami trauma atau frustasi yang dialami dalam menjalani kehidupan yaitu mulai masa oral, masa anal, masa phalis, masa laten hingga masa genital. Lebih jauh lagi mengkaji secara hipnotis “bekas” trautam itu dialami dalam ketidaksadaran si pasien. Untuk menolongnya, sumber gangguan berupa frustasi berat yang ditekan ke dalam ketidaksadaran itu harus dibongkar, diangkat kepermukaan untuk selanjutnya diterima atau diakui dan diatasi, dengan cara Flashback adalah dengan talking about. C. Pendekatan Behavior Pendekatan behavioral merupakan pendekatan yang paling popular dan terkenal karena bersifat logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Prilaku manusia dipengaruhi oleh beberapa kekuatan : 1. Internal forces (kekuatan dari dalam) Prilaku individu dipengaruhi akan kekuatan dari dalam berupa dorongan- dorongan, aspek-aspek biologis. 2. Eksternal forces (kekuatan dari luar) Prilaku individu dipengaruhi oleh moral-moral, aturan-aturan, reinforcemen. Ɣ Asumsi pendekatan Behavioral : Semua prilaku baik itu prilaku baik atau lurus merupakan hasil belajar Ɣ Teori behavioral : berangkat dari penelitian seekor binatang, tokoh dari behavioral adalah Pavlov. Ɣ Prinsip idiosinkratik : yaitu pemberian reinforcement dan punishment yang sesuai dengan kebutuhan anak. Ɣ Reinforcement mendatangkan kesenangan / keenakan Ɣ Punishment (hukuman) dilakukan agar prilaku menyimpang itu hilang Teknik-teknik treatmen dalam pendekatan behavioral : a. Guthinc 1. Incopatible method 2. exhaustion18 3. Change of environmeny Teknik atau istilah lain : 1. Shaping adalah pembentukan tingkah laku baru dari yang sederhana ke yang kompleks 2. Chaining adalah teknik yang menghubungkan potongan-potongan tingkah laku sehingga menjadi suatu tingkah laku 3. Promting digunakan apabila anak setelah diberi instruksi 2 kali 4. Cueing adalah isyarat verbal / gestrud (bahasa tubuh) untuk menguatkan atau melemahkan tingkah laku tertentu. 5. Time out mengistirahatkan atau mengeluarkan seseorang yang berprilaku yang tidak diharapkan dari kelompok 6. Token economy adalah pemberian ganjaran dengan sesuatu bernilai ekonomis, point, kartu diganti dengan barang biasa digunakan pada anak yang suka memukul ini dimaksudkan supaya si anak dapat menahan untuk mendapatkan point tadi. Teknik pendekatan behavioral menurut Hesher : 1. Desentisisasi (penuruan kepekaan), sistematik desentasisistem adalah penurunan kepekaan secara sistematik. Ɣ S.D 1 (imago) adalah latihan penurunan kepakaan dengan khayalan Ɣ S.D 2 (real live/invivo) adalah digunakan untuk penderita phobia 2. Assertive training adalah latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan dengan mempertahankan harga diri. Biasanya cocok digunakan bagi orang-orang yang rendah diri atau yang sering diejek. 3. Sexual training diberikan kepada klien yang mengalami kecemasan dalam hubungan seksual / antar jenis kelamin. 4. Avection therapy adalah latihan menghilangkan kebiasaan buruk dengan memberikan stimulus yang memberikan respon yang berkebalikan. Biasanya digunakan untuk anak-anak yang suka mengompol. 5. Cover desentisition sama dengan SD 1 adalah menghilangkan kebiasaan buruk seperti pemabuk dengan cara membayangkan pada saat yang19 bersamaan diminta untuk membayangkan hal yang paling tidak menyenangkan bedanya SD 1 dibimbing. 6. Thought stoping (penghentian pikiran) adalah menghilangkan kecemasan akibat perlakuan orang yang tidak mengenakan, missal : anak diminta membayangkan sesuatu yang sangat menyakitkan dirinya sendiri lalu pada saat klimaks dihentikan. 7. Modeling adalah anak diperintahkan menirukan sesuatu. D. Pendekatan Sosiologis Sosiologis secara luas dapat diartika sebagai llmu yang mempelajari hubungan antara manusia sebagai anggota masyarakat dengan manusia lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi, pendekatan sosiologis dapat diartikan sebagai salah satu pendekatan yang menggunakan media masyarakat sebagai media pembelajaran untuk individu yang dianggap mempunyai tingkah laku menyimpang. Karena dalam lingkungan itulah individu dapat belajar tentang banyak hal termasuk di dalamnya adalah tentang pola prilaku yang sesuai dengan lingkungan di mana ia berada. Dalam lingkungan tersebut anak dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam interaksi anak dengan lingkungan ia lambat laun mendapat kesadaran akan dirinya sebagai pribadi. Ia belajar untuk memandang dirinya sebagai obyek seperti orang lain memandang dirinya. Ia dapat membayangkan kelakuan apa yang diharapkan orang lain dari padanya. Ia dapat mengatur kelakuannya seperti yang diharapkan orang daripadanya. Misalnya ia dapat merasakan perbuatannya yang salah dan keharusan meminta maaf. Dengan menyadari dirinya sebagai pribadi ia dapat mencari tempatnya dalam struktur sosial,dapat mengharapkan konsekuensi positif bila berkelakuan menurut norma-norma akibat negative atas kelakuan melanggar aturan. Dalam pendekatan ini dikenal dengan proses sosialisasi yang dapat diartikan sebagai proses membimbing individu ke dalam dunia sosial. Sosialisasi dilakukan dengan mendidik anak individu tentang kebudayaan yang harus dimiliki dan diikutinya, agar ia menjadi angota yang baik dan masyarakat dan dalam berbagai kelompok khusus. Sosialisasi dapat juga diartikan sebagai pendidikan. Sosialisasi dapat tercapai melalui komunikasi dengan anggota masyarakat lainnya. Pola kelakukan yang diharapkan dari anak terus menerus disampaikan dalam segala situasi dimana ia terlibat. Kelakuan yang20 tidak sesuai dikesampingkan karena menimbulkan koflik dengan lingkungan sedangkan kelakuan yang sesuai dengan norma yang diharapakan dimantapkan. Pendekatan sosiologis lebih menempatkan kegiatan memilih pada konteks sosial. Melalui pendekatan ini, tingkah laku seseorang akan dipengaruhi identifikasi diri terhadap kelompok, termasuk norma yang dianut oleh kelompok tersebut. Dalam pendekatan ini, mobilitas seseorang yang ingin keluar dari kelompok untuk bergabung dengan kelompok lain masih dimungkinkan. Karena itu, pilihan seseorang akan dipengaruhi latar belakang sosial-ekonomi, demografi, tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. Sebenarnya, munculnya penyimpangan tingkah laku pada anak-anak yang sebagian besar menimpa remaja 14-19 tahun itu bisa dicegah, yakni melalui peran orang tua dalam menanamkan bekal agama kepada anak-anaknya. Dengan bekal agama yang memadai, iman mereka akan kuat, sehingga terhindar dari pengaruh lingkungan yang negative. Dalam membina anak agar mereka bisa menjadi generasi penerus bangsa yang bisa diandalkan, peran orang tua paling besar. “Mengapa peran orang tua sangat besar?”. Karena waktu terbanyak anak-anak ada di rumah, kalau di sekolah hanya beberapa jam. Waktu terbanyak itulah yang seharusnya dimanfaatkan oleh orang tua untuk mendidik dan membekali pendidikan agama kepada putra-putrinya. D. Pendekatan Kognitif Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristik memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berfikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1989). Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong siswa untuk mendiskusikan alas alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et all, 1976; Banks, 1985).21 Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilema moral dengan menggunakan metode diskusi kelompok. Diskusi itu dilaksanakan dengan memberi perhatian kepada tiga kondisi penting. Pertama, mendorong siswa menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi. Kedua, adanya dilema, baik dilema hipotetikal maupun dilema faktual berhubungan dengan nilai dalam kehidupan sehari- hari. Ketiga, suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik (Superka at all, 1976; Banks, 1985). Proses diskusi dimulai dengan penyajian cerita yang mengandung dilema. Dalam diskusi tersebut, siswa di dorong untuk menentukan posisi apa yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang terlibat, apa alasannya. Siswa diminta mendiskusikan tentang alasan-alasan itu dengan teman-temannya. Pendekatan perkembangan kognitif pertama kali dikemukakan oleh Dewey (Kolhberg; 1971, 1977). Selanjutnya dikembangkan lagi oleh Piaget dan Kohlberg (Freankel, 1977;Hersh, at al. 1980). Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai berikut: 1. Tahap “Premoral” atau “Preconventional”. Dalam tahap in tingkah laku seseorang didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau sosial; 2. Tahap “Conventional”. Dalam tahap ini seseorang mulai menerima nilai dengan sedikit kritis, berdasarkan pada kriteria kelompoknya. 3. Tahap “Autonomous”. Dalam tahap ini seseorang berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal dan pikiran serta pertimbangan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya menerima kriteria kelompoknya. Piaget berusaha mendefinisikan tingkat perkembangan moral pada anak-anak melalui pengamatan dan wawancara (Wind Miller, 1976) dari hasil pengamatan terhadap anak-anak ketika bermain, dan jawaban mereka atas pertanyaan mengapa mereka patuh kepada peraturan, Piaget sampai pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan kemampuan kognitif pada anak-anak mempengaruhi pertimbangan moral mereka. Kohlberg (1977) juga mengembangkan teorinya berdasarkan kepada asumsi- asumsi umum tentang teori perkembangan kognitif dari Dewey dan Piaget di atas. Seperti dijelaskan oleh Ellyas (1989) Kohlberg mendefinisikan kembali dan mengembangkan22 teorinya menjadi lebih rinci. Tingkat-tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg dimulai dari konsekuensi yang sederhana yang berupa pengaruh kurang menyenangkan dari luar ke atas tingkah laku sampai kepada penghayatan dan kesadaran tentang nilai- nilai kemanusiaan Universal. Lebih tinggi tingkat berfikir adalah lebih baik, dan otonomi lebih baik dari pada heteronomi. Tahap-tahap perkembangan moral diperinci sebagai berikut: Tahapan Preconventional Tingkat 1: Moralitas Heteronomus. Dalam tingkat perkembangan ini moralitas dari sesuatu perbuatan ditentukan oleh ciri-ciri dan akibat yang bersifat fisik. Tingkat 2: Moralitas Individu dan Timbal Balik. Seseorang mulai sadar dengan tujuan dan keperluan orang lain. Seseorang berusaha untuk memenuhi kepentingan sendiri. Dengan memperhatikan juga kepentingan orang lain. Tahapan Conventional Tingkat 3: Moralitas Harapan saling antara individu. Kriteria baik atau buruknya suatu perbuatan dalam tingkat ini ditentukan oleh norma bersama dan hubungan saling mempercayai. Tingkat 4: Moralitas sistem sosial dan kata hati. Sesuatu perbuatan dinilai baik jika disetujui oleh yang berkuasa dan sesuai dengan peraturan yang menjamin ketertiban dalam masyarakat. Tahapan Postconventional Tingkat 5: Tingkat Transisi. Seseorang belum sampai pada tingkat Postconventional yang sebenarnya. Pada tingkat ini kriteria benar atau salah bersifat personal dan subjektif dan tidak memiliki prinsip yang jelas dalam mengambil suatu keputusan moral. Tingkat 5: Moralitas kesejahteraan sosial dan hak-hak manusia. Kriteria moralitas dari sesuatu perbuatan adalah yang dapat menjamin hak-hak individu serta sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat. Tingkat 6: Moralitas yang didasarkan pada prinsip-prinsip moral yang umum. Ukuran benar atau salah ditentukan oleh pilihan sendiri berdasarkan prinsip-prinsip moral yang logis, konsisten dan bersifat universal.23 Asumsi-asumsi yang digunakan kohlberg(1971, 1977) dalam mengembangkan teorinya sebagai berikut: A). Bahwa kunci untuk memahami tingkah laku moral seseorang adalah dengan memahami filsafat moralnya, yakni dengan memahami alasan- alasan yang melatarbelakangi perbuatannya, (b) Tingkat perkembangan tersusun sebagai suatu keseluruhan cara berpikir. Setiap orang akan konsisten dalam tingkat pertimbangan moralnya, (C0 Konsep tingkat perkembangan moral menyatakan rangkaian urutan perkembangan yang bersifat universal, dalam berbagai kondisi kebudayaan. Sesuai dengan asumsi-asumsi tersebut, konsep perkembangan moral menurut teori Kohlberg memiliki empat ciri utama. Pertama, tingkat perkembangan itu terjadi dalam rangkaian yang sama pada semua orang. Seseorang tidak pernah melompati suatu tingkat. Perkembangannya selalu ke arah tingkat yang lebih tinggi. Kedua, tingkat perkembangan itu selalu tersusun berurutan secara bertingkat. Dengan demikian, seseorang yang membuat pertimbangan moral pada tingkat yang lebih tinggi, dengan mudah dapat memahami perkembangan moral tingkat yang lebih rendah. Ketiga, tingkat perkembangan itu terstruktur sebagai suatu keseluruhan. Artinya, seseorang konsisten pada tahapan pertimbangan moralnya. Keempat, tingkat perkembangan ini memberi penekanan pada struktur pertimbangan moral, bukan pada isi pertimbangan. Pendekatan perkembangan kognitif mudah digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, karena pendekatan ini memberikan penekanan pada aspek perkembangan kemampuan berpikir. Oleh karena pendekatan ini memberikan perhatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam masyarakat, penggunaan pendekatan ini menjadi menarik. Penggunaannya dapat menghidupkan suasana kelas. Teori kohlberg dinilai paling konsisten dengan teori ilmiah, peka untuk mem bedakan kemampuan dalam membuat pertimabangan moral, mendukung perkembangan moral, dan melebihi berbagai teori lain yang didasarkan kepada hasil penelitian empiris. Pendekata ini juga memiliki kelemahan –kelemahan salah satu kelemahannya seperti dikemukakan oleh Hersh , et, al.(1980), pendekatan ini menampilakan bias budaya barat. Anatara lain sangat menjungjung tinggi kebebasan pribadi yang disarkan filsafat liberal. Dalam proses pendidikan dan pengajaran , pendekaqtan ini juga tidak24 mementingkan kriteria benar salah untuk suatu perbuatan. Yang dipentingkan adalah alasan yang dikemukakan atau pertimbangan moralnya. Teori Kohlberg juga dikritik menganduang bias sex, karena dilema yang dikemukakannya oleh orientasi penilaian pada keadilan dan hak lebih tepat bagi kaum pria. Berdasarkan kepada hasil ujian empiris , kaum waniata cenderung mendapat skor lebih rendah dari kaum pria(Power, 1994). Dalam pelaksanaan program-programnya, teori ini juga memberi penekanan pada proses dan struktur pertimbangan moral, mengabaikan nilai dan isi pertimbangannya . berhubungan dengan hal ini menurut Ryan dan Lickona( 1987), pendidikan moral dengan penekanan kepada proses semata dan mengabaikan isi , tidak akan mencapai sepenuhnya apa yang diharapkan. Dari sisi lain, pengakuan Kohlberg bahwa teorinya berdasarkan pada prinsip –prinsip moral yang bersifat universal dibantah juga oleh Liebert(1992). Menurut Liebert, berbagai kajian dalam bidang antropologi tidak mendukung pandangan tentang adanya prinsip-prinsip moral yang universal seperti dikemukakan oleh Kohlberg. Realita yang ditemukan adalah berbagai norma, standar, dan nilai-nilai moral yang dipengaruhi oleh budaya masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu pendekatan kognitif pada anak tunalaras meniliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-anak yang pada umumnya. Prestasi yang rendah di sekolah disebabkan oleh mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami. Kegagalan belajar di sekolah sering menimbulakan anggapan bahwa mereka memiliki intelegensi rendah dan anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya keliru karena di dalam anak tunalaras ada yang mengalami terbelakang mental dan kelemahan dalam perkembangan kecerdasan dan dimana hal ini yang menyebabkan timbulnya gangguan tingkah laku. Singgih Gunarsa (1982) mengemukakan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya menimbulkan kesulitan pada anak dengan cara penyelesaian yang sering tidak sesuai dengan cara penyelesaian yang wajar. Disamping anak yang berintelegensi rendah tidak berarti bahwa anak yang memiliki intelegensi tinggi tidak bermasalah. Anak yang berintelegensi tinggi seringkali mempunyai masalah dalam penyesuaian diri dengan teman-temannya. Ketidak sejajaran antara perkembangan intelegensi dengan kemampuan sosial mengakibatkan anak25 mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan kelompok anak yang lebih tua (tetapi setara dalam kemampuan mentalnya). Maka jelaslah bahwa pada dasarnya perkembangan intelegensi anak tunalaras tidak berbeda dengan anak pada umumnya, ada yang memiliki intelegensi rendah, rata- rata (sedang), dan ada pula yang memiliki intelegensi yang tinggi. F. Pendekatan Ekologis Teori ekologis ini menggabungkan teori terdahulu karena menurut teori ini seseorang memiliki karakteristik dari lahir yaitu bawaan lahir, dalam teori ini dijelaskan suatu pendekatan untuk anak luar biasa dapat dilihat dari perkembangan dan kemampuan yang dimiliki si anak sejak lahir, jadi secara umum peran orang tua sangat besar untuk membantu proses penyuluhan pada anak luar biasa, karena dalam teori ini sumber penyebab utama perilaku abnormal adalah keadaan-keadaan obyektif di masyarakat yang bersifat merugikan seperti kemiskinan, diskriminasi dan prasangka ras, serta kekejaman atau kekerasan maka bentuk stessor atau situasi menekan di beberapa tempat dapat berbeda-beda tergantung pada konteks ekologiskultural dimana individu hidup misalnya, di daerah pedesaan yang masyarakatnya bersifat homogen. Sumber utama penyebab gangguan perilaku kemungkinan besar adalah kemiskinan, sebaliknya dikota-kota besar dengan masyarakat yang heterogen, penyebab penting timbulnya gangguan perilaku di kalangan kelompok minoritas mungkin adalah diskriminasi. Selain itu, pola gangguan perilaku di suatu masyarakat dapat berubah-ubah sejalan dengan perubahan peradaban sebagai contoh pada masa ketika hidup gangguan perilaku yang banyak di temukan pada kaum wanita adalah sejenis neurosis yang disebut histeris. Pada zaman modern sekarang , gangguan yang cukup populer dimana-dimana khususnya dikota-kota besar adalah stress, dan pola interaksi dalam yang disebut sistem klien gangua kecemasan menunjukan adanya pola komunikasi yang tidak adaptif dalam sistem. Kadang-kadang masalah kecemasan pada anak yang di identifikasikan dilakukan untuk menjaga keseimbangan keluarga. Teori ini yang berparadigma lingkungan (ekologi) ini menyatakan bahwa perilaku seseorang ( termasuk perilaku malas belajar pada anak) tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan dampak dari interaksi orang yang bersangkutan dengan lingkungan di26 luarnya. Adapun lingkungan di luar diri orang ( dalam makalah ini selannjutnya akan di fokuskan pada anak atau siswa SD-SLTA) dibagi dalam beberapa lingkaran yang berelapis-lapis 1. Lingkaran pertama adalah yang paling dekat dengan pribadi anak, yaitu lingkaran sistem mikro yang terdir dari keluarga, sekolah, guru, tempat penitipan anak, teman bermain, tetangga, rumah, tempat bermain dan sebagainya yang sehari-hari ditemui oleh anak. 2. Lingkaran kedua adalah interaksi antar faktor-faktor dalam sistem mikro (hubungan orangtua guru, orangtua-teman, antar teman, guru-teman dsb.) yang dinamakannya sistem meso. Di luar sistem mikro dan meso, ada lingkaran ketiga yang disebut sistem exo, yaitu lingkaran lebih luar lagi, yang tidak langsung menyentuh pribadi anak, akan tetapi masih besar pengaruhnya, seperti keluarga besar, polisi, POMG, dokter, koran, televisi dsb. 3. Akhirnya lingkaran yang paling luar adalah sistem makro yang terdiri dari ideologi negara, pemerintah, tradisi, agama, hukum, adat, budaya dsb. Dalam pendekatan ini orang tua dan pendidik di tuntut untuk memahami lebih jauh karakteristikdan segala masalah serta kelainan yang dimiliki anak, pendidik dimiliki dengan perhatian yang sederhana menuju kompleks, dan memperhatikan perilaku klien secara intelektual, emosional maupun aspek fisik. Pendidik mengamati dengan bersikap tegas, luwes, dan penuh perhatian yang dapat berorientasi pada pengembangan kemampuan anak untuk membuat penilaian dan keputusan (judgement) sendiri secara tepat dan tepat. Dengan perkataan lain, anak harus didik untuk menilai sendiri yang mana yang benar/salah, baik/tidak baik atau indah/jelek dan atas dasar itu ia memutuskan perbuatan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. G. Pendekatan Religi Pada dasarnya, fitrah manusia sebagai mahluk yang memiliki hati nurani adalah religius. Seorang bayi mungil akan diam sejenak ketika mendengar suara adzan dari masjid maupun televisi, karena gelombang getaran suara adzan menyambung dengan getaran hati nurani sang bayi. Hati nurani adalah danau religiusitas tempat bersemayam,27 dan sering hanya dapat didengar kalau seseorang bisa merenung dalam sepi dan sendiri. Karena itulah, Nabi perlu menyepi di Gua Hira, melepaskan diri dari kegalauan peradaban jahiliyah, untuk dapat mendengarkan suara hati nuraninya dan menerima kabar kebenaran sejati. Agama merupakan kenyataan terdekat dan sekaligus terjauh. Begitu dekat karena agama senantiasa hadir dalam kehidupan sehari-sehari di rumah, kantor, media massa, pasar dan dimanapun saja kita berada. Begitu misterius karena agama seringkali menampakan wajah-wajah yang ambigu (tampak berlawanan) memotivasi kekerasan dan solidaritas kemanusiaan, menumbuhkan takhyul dan mengilhami pencarian ilmu pengetahuan, memekikkan peperangan paling keji dan menebarkan perdamaian palaing hakiki. Sigmund Freud, bapak psikologi modern, dalam bukunya The Future of An Illusion mengatakan bahwa pada dasarnya motivasi beragama berasal dari ketidakberdayaan manusia melawan kekuatan-kekuatan alamiah di luar dirinya dan kekuatan naluriah dari dalam dirinya. Agama timbul karena manusia belum mampu mempergunakan kekuatan diri dan akalnya secara maksimal. Dalam pandangan Sigmund Freud, keberagaman seperti di atas sebagai sesuatau sikap mirip dengan “neurosis obsesional” yang menjangkiti orang bergama. Agama, kata Freud, adalah suatu illusi yang sengaja diciptakan manusia dalam rangka mengatasi berbagai macam problem psikologis yang menyedihkan seperti rasa frustasi, depresi, narsisme, atau rasa bersalah yang dihadapi manusia. Freud mengatakan, orang beragama sering berada dalam situasi feeling of powerlessness (perasaan ketergantungan). Menurut Freud, dengan the feeling of powerlessness itu, orang tidak akan pernah sampai pada kedewasaan beragama, justru karena gagal membangun otonomi dirinya sendiri sebagai manusia. Mengapa? Karena the feeling of powerlessness pada hakikatnya berlawanan dengan apa yang dalam tradisi keagamaan disebut sebagai religious feeling (perasaan keberagamaan), yang selalu ditandai dengan tujuan perkembangan spiritual manusia dalam cita-cita pencapaian kebenaran (reason, truth, logos), cinta-kasih-persaudaraan (brotherly-love), mengurangi penderitaan (reducing of suffering) dan sebagai jalan mendapatkan kebebasan dan tanggung jawab sosial manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi.28 Masyarakat pedesaan dikenal sangat religius. Artinya, dalam keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya. Secara kolektif, mereka juga mengaktualisasi diri kedalam, kegiatan budaya yang bernuansa keagamaan, misalnya: Tahlilan, rajaban, Jumat Kliwonan, dll. Catatan: Karakteristik tersebut, pada saat ini tidak bisa digeneralisasikan bagi seluruh warga masyarakat desa. Ini disebabkan oleh adanya perubahan sosial religius yang begitu besar pengaruhnya dalam tata pranata kehidupan masyarakat pedesaan. Dampak yang terjadi meliputi aspek agama, ekonomi, sosial politik, budaya dan pertahanan keamanan. Menyikapi kenyataan ini, secara psikologis kita tidak perlu khawatir atau bahkan takut karena justru akan menyulitkan kita untuk bersosialisasi. Sikap menghargai, itulah yang mesti kita kembangkan! Kita mesti tahu diri disaat masyarakat desa sedang menjalankan ibadah agamanya. Karena itu dalam menyusun suatu kegiatan, pertimbangan faktor “lima waktu” sangat penting untuk diperhatikan. Peranan Orang Tua Dalam Mencegah Anak Melakukan Penyimpangan Jumlah anak nakal di NTB yang terdata oleh Dinas Sosial dan Pemberdayaan Peerempuan setempat selama 2002-2003 mencapai 11 ribu orang. Mereka dikategorikan sebagai anak nakal, karena melakukan penyimpangan tingkah laku, seperti terlibat pencurian, perjudian, mabuk-mabukan dan sejenis. Sebenarnya, munculnya penyimpangan tingkah laku pada anak-anak yang sebagian besar menimpa remaja usia 14-19 tahun itu bisa dicegah, yakni melalui peran orangtua dalam menanamkan bekal agama kepada anak-anaknya. Dengan bekal agama yang memadai, iman mereka akan kuat, sehingga terhindar dari pengaruh lingkungan yang negatif. Dalam membina anak agar mereka bisa menjadi generasi penerus bangsa yang bisa diandalkan, peran orangtua paling besar. “Kenapa peran orangtua terbesar? Karena waktu terbanyak anak-anak ada di rumah. Kalau di sekolah hanya beberapa jam. Waktu terbanyak itulah yang seharusnya dimanfaatkan oleh orangtua untuk mendidik dan membekalo pendidikan agama kepada putra-putrinya. Munculnya kecenderungan terjadinya penyimpangan tingkah laku atau anak menjadi nakal, tidak semata-semata karena faktor ekonomi atau faktor lingkungan29 semata. Peran orangtua sangat besar dalam membentuk Kepribadian putra-putrinya. Dengan pendidikan agama yang memadai, anak-anak tidak akan terjerumus pada kegiatan yang negatif. Selain bekal pendidikan agama penting, orangtua juga harus mampu mengarahkan anak-anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif. Misalnya dengan mengarahkan putra-putrinya untuk aktif berorganisasi seperti Karang Taruna dan sebagainya. Anak- anak usia 14-19 tahun kondisinya sangat labil. Jika mereka diabaikan dan tidak diarahkan pada kegiatan-kegiatan positif, mereka akan mudah terjerumus pada kegiatan yang bersifat negatif. Katanya, Tia di Mataram berpendapat bahwa pendidikan agama kepada anak-anak adalah mutlak. Mengingat, bekal agama merupakan benteng bagi anak-anak untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Jika imannya kuat, lingkungan seburuk apa pun mereka akan tahan. Untuk membangun benteng bagi anak- anak tersebut peran orangtua sangat besar. Peran orangtua dan guru dinilai cukup efektif, terutama dalam memberikan siraman rohani kepada anak-anak bermasalah ini. Mengingat, pada umumnya anak-anak yang tingkah lakunya menyimpang, bekal agamanya kurang. Selain memberi bekal agama, bekal keterampilan juga penting. Inspektorat Jendral Departemen Agama selama tiga tahun belakangan ini telah melaksanakan Program Pengawasan dengan Pendekatan Agama (PPA) yang berisi metode pendekatan pengawasan melalui penanaman nilai-nilai ajaran agama yang dilaksanakannya dengan konsisten. Pendekatan melalui jalur agama yang dilakukan menitikberatkan pada sentuhan nurani untuk mengajak dan mendorong diri sendiri serta orang lain untuk berbuat kebajikan dan berbudaya malu dalam melakukan penyimpangan yang dilandasi rasa penuh tanggung jawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar